Dhawuh 1
Saya adalah mursyid tunggal Dzikrul
Ghofilin.
“Lho, Gus kok berkata begitu
bagaimana dengan farid dan syauki..?” tanya Gus Ali sidoarjo.”mereka hanya
meramaikan saja”, jawab Gus Miek.
Dhawuh 2
Demi Allah, saya hanya bisa menangis
kepada Allah, semoga sami’in yang setia, pengamal Dzikrul Ghofilin, semua
maslah-masalahnya tuntas diperhatikan oleh Allah.
Dhawuh 3
Bila mengikuti Dzikrul Ghofilin,
kalau tidak tahu artinya yang penting hatinya yakin.
Dhawuh 4
Barusan ada orang bertanya: Gus,
Dzikrul Ghofilin itu apa..? saya jawab: “Jamu”.
Dhawuh 5
Dzikrul Ghofilin itu senjata
pamungkas, khususnya menghadapi tahun 2000 ke atas
Dhawuh 6
Ulama sesepuh yang dikirimi fatihah
oleh orang-orang yang tertera atau tercantum dalam Dzikrul Ghofilin itu yang akan
saya dan kalian ikuti di akhirat nanti.
Dhawuh 7
Dekatlan kepada Allah..! kalau tidak
bisa, dekatlah dengan orang yang dekat denganNya.
Dhawuh 8
Kemanunggalan sema’an Al Qur’an dan
Dzikrul Ghofilin adalah sesuatu yang harus di wujudkan oleh pendherek, pimpinan
Dzikrul Ghofilin, dan jama’ah sema’an Al Qur’an. Sebab antara sema’an Al Qur’an
kaliyan Dzikrul Ghofilin ingkang sampun dipun simboli kaliyan fatihah miata
marroh ba’da kulli shalatin, meniko berkaitan manunggal.
Dhawuh 9
Semoga Dzikrul Ghofilin ini menjadi
ketahanan batiniah kita, sekaligus penyangga kita di hari Hisab (hari
perhitungan amal). Itulah yang paling penting..!
Dhawuh 10
Nuzulul Qur’an yang bersamaan dengan
turunnya hujan ini, semoga menjadi isyarat turunnya petunjuk kepada saya dan
kalian semua, seperti firman Allah: “Ulaika ‘ala hudan min rabbihim wa ulaika
hum al-muflihun” (Mereka telah berada di jalan petunjuk , dan mereka adalah
orang-orang yang beruntung).
Dhawuh 11
Barusan ada orang yang bertanya:
Gus, bagaimana saya ini, saya tidak bisa membaca Al Qur’an..? saya jawab:
“Paham atau tidak, yang penting sampean datang ke acara sema’an, karena
mendengarkan saja besar pahalanya”.
Dhawuh 12
Sejak sekarang, yang kecil harus
berpikir: kelak kalau besar, aku besar seperti apa, yang besar harus berpikir,
kalau tua kelak, aku tua seperti apa, yang tua juga harus berpikir, kelak kalau
mati, aku mati dalam keadaan seperti apa.
Dhawuh 13
Dalam sema’an ada seorang pembaca Al
Qur’an, huffazhul Qur’an dan sami’in. Seperti ditegaskan oleh sebuah hadits:
Baik pembaca maupun pendengar setia Al Qur’an pahalanya sama. Malah di dalam
ulasan tokoh lain dikatakan: pendengar itu pahalanya lebih besar daripada
pembacanya. Sebab pendengar lebih main hati, pikiran, dan telinganya. Pendengar
dituntut untuk lebih menata hati dan pikirannya dan lebih memfokuskan
pendekatan diri kepada Allah.
Dhawuh 14
Satu-satunya tempat yang baik untuk
mengutarakan sesuatu kepada Allah adalah majelis sema’an Al Qur’an. Hal ini
tertera di dalam (kalau tidak salah) tiga hadits. Antara lain Man arada an
yatakallam ma’a Allah falyaqra’ Al Qur’an (siapa ingin berkomunikasi dengan
Allah, hendaknya ia membaca Al Qur’an).
Dhawuh 15
Seorang yang ikut sema’an
berturut-turut 20 kali saya jamin apa pun masalah yang sedang dihadapinya pasti
akan beres/tuntas.
Dhawuh 16
Ada seorang datang kepada saya:
“Gus, problem saya bertumpuk-tumpuk, saya sudah mengikuti sema’an 19 kali, tinggal
1 kali lagi, kira-kira masalah saya nanti tuntas atau tidak..?” saya jawab:
“yang sial itu saya, kok bertemu dengan orang yang mempunyai masalah seperti
itu.”
Dhawuh 17
Saya sendiri sebagai pencetus
sema’an Al Qur’an ternyata kurang konsekuen, sementara sami’in datang dari
jauh, bahkan hadir sejak subuh, mulai surat Al fatihah dibaca sampai berakhir
setelah doa khotmil Qur’an malam berikutnya baru mereka pulang. Sedang saya
ini, baru datang kalau sema’an Al Qur’an akan diakhiri. Itu pun tidak pasti.
Terkadang saya berpikir, saya ini seorang yang dipaksakan untuk siap dipanggil
kiai.
Dhawuh 18
Berapa yang hadir setiap sema’an?
Jangan lebih lima persen. Nanti bila sami’innya terlalu banyak, saya hanya
menangis dan membaca Al Fatihah, lalu pulang. Saya sadar, saya tidak mampu
berbuat apa-apa. Jangankan untuk orang banyak, untuk satu orang saja saya tidak
bisa.
Dhawuh 19
Kalau saya nongol, mungkin tak cukup
semalaman. Satu persatu harus dilayani. Saya besok ke mana? Apa yang harus saya
lakukan? Kami tidak punya modal? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan,
Dan, saya dituntut untuk memberikan keterangan yang bisa mereka terima,
setidaknya agak menghibur, dengan lelucon atau dengan pengarahan yang pas.
Dhawuh 20
Semoga sema’an dan Dzikrul Ghofilin
ini kelak menjadi tempat duduk-duduk dan hiburan anak cucu kita semua.
Dhawuh 21
Alhamdulillah, saya adalah yang
pertama memberitahukan kepada “anak-anak” tentang makna dan kegunaan sema’an Al
Qur’an. Di tengah maraknya Al Qur’an diseminarkan dan didiskusikan,
Alhamdulillah masih ada kelompok kecil yang menyakini bahwa Al Qur’an itu
mengandung berkah.
Dhawuh 22
Saya mengambil langkah silang dengan
mengatakan kepada anak-anak yang berkumpu agar sebulan sekali mengadakan
pertemuan, ngobrol-ngobrol, guyon-guyon santai, syukur bisa menghibur diri
dengan hiburan yang berbau ibadah yang menyentuh rahmat dan nikmat Allah.
Kebetulan saya menemukan satu pakem bahwa pertemuan yang dibarengi dengan
alunan Al Qur’an, membaca dan mendengarkannya, syukur-syukur dari awal sampai
akhir, Allah akan memberikan rahmat dan nikmatNya. Jadi, secara batiniah,
sema’an Al Qur’an ini menurut saya adalah hiburan yang bersifat hasnah
(bernilai baik). Juga, pendekat diri kita kepada Allah dan tabungan di hari
akhir. Itu pula yang benar-benar diyakini para pengikut sema’an Al Qur’an.
Dhawuh 23
Di bukit ini terdapat 3 tiang kokoh
(panutan), yaitu (1) Syaikh Abdul Qodir Khoiri, seorang wali yang penuh kasih,
(2) Abdul Sholih As-Saliki, seorang wali yang terus menjaga wudhunya demi
menempuh jalan berkah, (3) Muhammad Herman, ia adalah wali penutup, orang-orang
terbaik berbaur dengannya. Wahai tuhanku, berilah manfaat dan berkah mereka.
Kumpulkan aku bersama mereka.
Dhawuh 24
Mengenai tata krama ziarah kubur,
selayaknya lahir batin ditata dengan baik. Saya juga berpesan, kalau seseorang
berceramah, hendaknya ia tidak meneliti siapa yang dimakamkan, juga riwayat
hidupnya. Setidaknya hal demikian ini hukumnya makruh.
Dhawuh 25
Tiga orang yang tidur ini hidup
sebelum Wali songo. Orang-orang banyak datang kesini. Demikian juga orang-orang
yang sakit, mereka kalau datang ke sini sembuh.
Petuah Gus Miek selanjutnya silahkan KLIK DISINI..
19.08
Unknown




0 komentar:
Posting Komentar